Information Technology

Welcome to Information and Technology word,

Brainware

Trying to be better for our glory

Technology

Experience to enjoy our bussiness with technology

Security

Protect your bussiness

Refreshing

Refreshing our mind


Filsafat Agama

0 comments

“Malu bertanya sesat dijalan”. Pribahasa ini sejatinya tak sekedar nasehat belaka. Namun juga menggambarkan tentang karakteristik filsafat. Kenapa penulis berani menjustifikasi demikian? Karena orang berfilsafat adalah orang yang kritis. Karakter orang yang kritis selalu memunculkan pertanyaan dan selalu mencari jawaban dibalik pertanyan demi pertanyaannya. Lantas, pertanyaannya sekarang, adakah filsafat agama Islam?
Mencari jawaban tersebut secara rill di dalam al-Qur’an maupun Hadis Rasulullah Saw tentu saja tidak akan ditemukan. Namun di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa filsafat agama Islam memang ada. Lihat saja dari ayat-ayat yang menunjukkan perenungan atau ayat-ayat mengandung pertanyaan.
Karena Al-Quran sendiri mengajarkan tentang cara berfilsafat dengan baik. Allah di dalam wahyu-Nya tersebut kerap menyuruh manusia berpikir. Allah berulang kali menyebutkan kalimat, “apakah kamu tidak berpikir, apakah kamu tidak berakal atau apakah kamu tidak mengerti”.  Hal ini menunjukkan bahwa Allah mengingatkan manusia, bahwa filsafat agama Islam memang ada, dan setiap muslim mestinya berfilsafat mengenai apa yang diajarkan oleh agamanya.

Ciri-Ciri Orang Berfilsafat

Sebelum membahas filsafat agama Islam lebih mandalam, ada baiknya diwartakan kepada Anda ciri-ciri orang yang berfilsafat.
  • Selalu kritis
Orang yang berfilsafat selalu kritis terhadap segala informasi, kepercayaan dan sikap yang selama ini diperpeganginya.  Rumus utama yang digunakan orang yang selalu berfilsafat adalah dengan bertanya.
  • Melakukan Perpaduan
Orang yang berfilsafat kerap memadukan ilmu-ilmu atau bukti-bukti dalam menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukannya.
  • Menggunakan Analisis
Setelah bertanya dan memadukan bukti atau ilmu dalam menjawab pertanyaan yang diajukan, selalu menggunakan pisau analisis yang tajam. Sehingga dalam menemukan jawaban, orang yang berfilsafat tidak pernah menghiraukan intimidasi yang muncul.

Pengetahuan Apa pun Bersumber pada Tuhan

Islam menekankan bahwa pengetahuan semata-mata berasal dari Allah, baik pengetahuan ilahi (yang sekarang disebut pengetahuan metafisika) maupun pengetahuan sekular (yang sekarang disebut ilmu pengetahuan).
Berpedoman pada superioritas Allah dan kerendahan mahkluk, dalam Hayy bin Yaqdzon dijelaskan ada dua tipe pencari pengetahuan (Allah). Pencari pertama bernama Hayy bin Yaqdzon adalah orang yang mengandalkan batin.
Ia mendapatkan bimbingan langsung dari Allah sehingga mencapai pengetahuan utama. Pencari kedua adalah orang yang mengandalkan rasio. Ia harus mengandalkan diri sendiri demi mencapai pengetahuan utama.
Akhirnya, kedua pencari tersebut sama-sama mendapat pengetahuan utama meski menempuh cara yang berbeda. Dengan demikian, dalam konteks tertentu, Ibnu Tufayl menyiratkan bahwa pada akhirnya ilmu pengetahuan pun pasti mengarah pada Tuhan.

Filsafat Wahdatul Wujud

Filsafat Wahdatul Wujud lebih ekstrim lagi dalam pencapaian pengetahuan. Dalam filsafat ini, untuk mencapai “Pengetahuan” (Allah), seseorang harus menghancurkan diri sehingga tidak ada ruang yang tersisa bagi ke-aku-an. Dengan demikian, barulah “pengetahuan” dapat menyingkapkan diri.
Dasar pencapaian ini adalah kata-kata Nabi Muhammad “Barang siapa telah melihatku, telah melihat Tuhan”. Akan tetapi, filsafat ini sering dianggap sebagai filsafat oang kafir karena “memungkinkan” adanya penyatuan makhluk dan khalik (pencipta).
Filsafat wahdatul wujud pernah menyebabkan dua orang “pelaku”-nya meninggal. Pertama, Husain bin Manshur (al-Hallaj) yang dengan lantang menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan (Ana Al-Haqq). Al-Hallaj dipotong hidup-hidup di depan umum, dibunuh, lalu jasadnya dibakar pada 922 M.
Kedua, Ayn Al-Qudat yang nasibnya sama seperti Al-Hallaj, dibunuh karena mengungkapkan ketersingkapan ketika ia hancur dan Tuhan menaungi hatinya.

Filsafat Agama Islam -- Mencari Tuhan

Dari dua contoh filsafat dalam Islam tersebut, kita dapat melihat bagaimana pun sumber utama filsafat Islam adalah Tuhan. Memang ada beberapa aliran lain, seperti Isyraqiyah dari Suhrawardi.
Akan tetapi, aliran yang beragam tersebut hanyalah “cara” untuk menemukan Tuhan sebagai sumber pengetahuan; karena terdapat hadits qudsi, “Aku adalah harta karun tersembunyi. Aku ingin dicari dan ditemukan”. Tugas muslim adalah mencapai-Nya, terlepas apa pun filsafat yang dipakainya.
Definisi Tuhan dalam Filsafat Agama Islam
Setelah diketahui tentang kajian yang dibahas dalam filsafat agama Islam lebih konsentrasi pada pembahasan Tuhan. Maka kaum filsafat selalu menanyakan siapa yang layak disebut Tuhan? Pasalnya, nabi Ibrahim as. saja mencari Tuhan. Ketemu matahari, dikiranya Tuhan namun ternyata bukan. Karena matahari terbenam. Tuhan tidak mungkin hilang-timbul. Ketemu bulan dan bintang juga demikian. Ia menyaksikan bulan dan bintang juga lenyap. Hingga akhirnya, nabi Ibrahim memproklamirkan bahwa ia hanya bertuhankan kepada menjadikan langit dan bumi dan sekali-kali tidak menyekutukannya. (QS. Al-An’am [6]: 76-79)
Lalu pertanyaannya, Siapa itu Tuhan? Jika ingin mendefenisikan Tuhan dengan detail melalui filsafat agama Islam hanya dapat dikatakan, bahwa Tuhan adalah yang tidak pernah sedikitpun membutuhkan bantuan siapa pun dan apa pun, tapi siapa pun dan apa pun yang selalu membutuhkannya.
Artinya, Tuhan tidak pernah meminta atau memohon bantuan kepada mahluk, tapi mahluk yang selalu memohon kepada-Nya. Inilah definisi Tuhan yang terdapat di dalam filsafat agama Islam. Jika ada yang mengaku Tuhan, tapi masih membutuhkan tempat, maka itu bukanlah Tuhan. Jika ada yang mengaku Tuhan tapi membutuhkan arah, maka itu bukanlah Tuhan. Jika ada yang mengaku Tuhan tapi membutuhkan masa atau waktu, maka itu bukanlah Tuhan.
Sehingga, di dalam filsafat agama Islam, Tuhan tidak sama dengan makhluk, baik dari perbuatan dan sifat-Nya. Jika makhluk berbicara maka membutuhkan bantuan suara, membutuhkan ruang dan membutuhkan awal dan akhir. Bagaimana dengan Tuhan? Tuhan tidak sama dengan makhluk. Lalu bagaimana itu? Anda tidak akan menemukannya, karena Anda juga makhluk.
Yang pasti, di dalam filsafat agama Islam dikatakan bahwa Tuhan tidak sama dengan makhluk. Karena Anda makhluk maka Anda tidak akan pernah bisa memikirkan bagaimana Tuhan. Tuhan ada, namun adanya tidak seperti adanya Anda. Intinya, Anda mesti meyakinkan dan memperpegangi bahwa Tuhan adalah yang tidak pernah membutuhkan mahluk, tapi mahluklah yang membutuhkan Tuhan.     

Tak Salah Menyebut Tuhan

Orang yang belajar filsafat agama Islam tak akan pernah menyalahkan orang yang selalu menyebut Tuhan, bukan Allah. Karena Allah adalah salah satu nama tuhan dari sembilan puluh sembilan nama-Nya. Allah adalah nama yang populer digunakan, karena Tuhan sendiri menggunakan nama tersebut.
Coba perhatikan basmalah, maka kata Allah terlebih dahulu daripada kata ar-rahman dan ar-rahim. Ketiganya adalah nama Tuhan. Lantas pertanyaannya, siapa yang memberi nama Tuhan tersebut? Jawabannya, adalah Tuhan sendiri. Karena Tuhan memang berbeda dengan makhluk. Jika makhluk membutuhkan yang lain untuk menamakannya, sedangkan Tuhan tidak membutuhkan.
Jika Tuhan membutuhkan yang lain untuk memberi nama-Nya maka ia sama dengan mahluk. Jelas, ini salah dan keliru. Tuhan, dalam kajian filsafat agama Islam, tidak pernah membutuhkan mahluk, tapi mahluk yang membutuhkan Tuhan.

Memperolok Filsafat

Terkait dengan filsafat, bahkan terdapat sosok Nasruddin Hoja yang menyindir para filsuf dalam guyonan berikut.
Seorang filsuf yang penasaran dengan Nasruddin mengajak Nasruddin untuk berjalan-jalan berkeliling kota. Setelah sekian lama mengobrol dan berdebat, akhirnya keduanya memutuskan untuk mencari tempat makan. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah makan terkemuka dan meminta masakan paling spesial untuk hari ini.
“Menunya adalah ikan bakar,” kata pelayan.
“Bawakan dua untuk kami!” jawab Nasruddin.
Beberapa menit kemudian, sang pelayan membawakan dua ikan bakar. Yang satu lebih besar daripada yang lain. Tanpa permisi, Nasruddin langsung mengambil ikan bakar yang lebih besar.
Sang filsuf, melihat cara Nasruddin yang tidak sopan, segera memarahi Nasruddin. Menurutnya, Nasruddin sangat egois, melanggar etika, dan perilakunya tidak sesuai dengan kecerdasan. Setelah diceramahi sekian lama, Nasruddin menyela.
“Sudah cukupkah, Tuan?” tanya Nasruddin.
“Anda benar-benar tidak sopan. Saya malu berteman dengan Anda. “Sebagai seorang yang bermoral, saya tidak akan berperilaku seperti Anda. Saya justru akan memilih ikan bakar yang lebih kecil!” jawab filsuf tersebut.
“Ini bagian Anda kalau begitu,” Nasruddin menyodorkan ikan bakar yang lebih kecil kepada filsuf tersebut.
Inilah kajian sederhana tentang filsafat Agama Islam yang khusus mengupas masalah Tuhan. Semoga artikel sederhana ini memberikan pencerahan.

 
Galang Sahtiyanza © 2013 Design by Omdgalz